Gunung Kembang,
Pesona anak Gunung Sindoro
Tidak segagah ibu nya yaitu Gunung Sindoro, tidak setinggi
Ayah nya yaitu Gunung Sumbing, Gunung Kembang seperti baru terlahir mewarisi
pesona dan daya tarik Ayah dan Ibu nya yang lebih lama dikenal berkat keeksotikan dan Jalur pendakian nya
yang menantang.
Kabupaten Wonosobo dikenal dengan pesona alam pegunungan nya
yang khas, dikelilingi gunung-gunung tinggi yang memiliki daya tarik
tersendiri. Sebut saja Gunung
Sindoro dan Gunung Sumbing yang merupakan 2 gunung berapi aktif paling dikenal
di kabupaten Wonosobo, karena letaknya
berdekatan dan memiliki ketinggian yang hampir sama membuat kedua gunung ini
sering dijuluki gunung kembar. Dibalik keeksotikan Gunung Sindoro dan Sumbing
ternyata masih terdapat gunung lain yang namanya masih asing ditelinga pendaki
Gunung Indonesia. Gunung ini bernama Gunung Kembang, letaknya berada di desa
Blembem kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo, masyarakat sekitar menganggapnya
sebagai anak dari Gunung Sindoro. Alasan nya cukup logis selain letaknya yang
bersebelahan bentuk dan karakter
fisiknya pun hampir serupa dengan gunung Sindoro, yang membedakan hanya
ketinggian nya saja karena gunung Kembang terlihat lebih pendek. Gunung Kembang
memiliki ketinggian sekitar 2.340 meter diatas permukaan laut, sedangkan Ibu
nya Gunung Sindoro memiliki ketinggian sekitar 3.150 meter diatas permukaan
laut. Walaupun ketinggian gunung Kembang tidak seberapa namun letaknya yang
berdampingan dengan dua gunung berapi eksotik yaitu Sindoro dan Sumbing membuat
Gunung Kembang menjanjikan pemandangan indah yang
memiliki ciri khas tersendiri. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk
mencoba menjajal mendaki Gunung Kembang.
Dari Bandung saya
memulai perjalanan hari Jumat (29/06/2018) malam bersama seorang teman
menggunakan Kereta Api dengan tujuan awal Yogyakarta. Pasalnya kami sudah
janjian dengan teman teman kami dari Karpala (Kedaulatan Rakyat Pecinta Alam)
yang sebagian besarnya berdomisili di kota Gudeg. Keesokan hari nya Sabtu pagi
kami bergegas menuju kantor Harian umum Kedaulatan Rakyat untuk berkumpul
bersama rekan-rekan kami yang juga akan mendaki Gunung Kembang. Kedatangan kami
berdua saat itu disambut dengan hangat oleh mereka, kami pun dipersilahkan
masuk beristirahat sejenak dikantor yang berada di Jalan Mangkubumi Yogyakarta.
Obrolan semakin hangat saat
secangkir kopi hitam menemani perbincangan kami ketika itu, tak terasa waktu
sudah menunjukkan jam09.00. kami pun segera bersiap siap memulai perjalanan
menuju basecamp pendakian Gunung Kembang menggunakan sepeda motor. Total ketika
itu tim kami ada 7 orang menggunakan 5 sepeda motor. Dari jantung kota
Yogyakarta kami memulai perjalanan ke arah utara menuju kabupaten Magelang
kemudian setelah memasuki muntilan belok kiri melewati jalan raya borobudur,
setelah itu kami terus mengikuti jalan memasuki jalan Sudirman, Jalan
Syailendra , Jalan Sentanu, Jalan Salaman-Bener, Jalan Purworejo kemudian masuk
ke Jalan Raya Wonosobo-Magelang yang jalannya mulai berkelok kelok dengan
tanjakan dan turunan yang cukup ekstrim. Rasa pegal diperjalanan mulai terasa
sampai akhirnya kami sampai di kecamatan Kertek kabupaten Wonosobo. Disini kami
beristirahat sejenak disebuah warung makan untuk mengisi perut yang sudah mulai
terasa lapar. Setelah itu perjalanan dilanjutkan, singgah sejenak di sebuah
mini market untuk membeli logistik dan makanan untuk pendakian.
Sekitar
jam12.30 kami sampai di basecamp pendakian gunung Kembang jalur Blembem.
Menempuh perjalanan sekitar 90km dari Yogyakarta dengan waktu tempuh sekitar 3
jam perjalanan. Basecamp Gunung Kembang via Blembem ini terletak di
kawasan perkebunan teh Tambi, secara administratif berada di dusun Blembem,
desa Darmakasihan kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo. Teman teman di basecamp
akan menyambut kedatangan para pendaki dengan hangat. Disela istirahat di
basecamp saya menyempatkan berbincang dengan salah seorang pengurus basecamp
namanya Mas Danyang, menurutnya asal usul dinamai Gunung Kembang ini karena di
kawasan Gunung Kembang banyak terdapat berbagai macam jenis bunga/kembang, menurut
penelitian yang telah dilakukan oleh tim dari IPB (Institut Pertanian Bogor)
disini terdapat 100 jenis spesies bunga anggrek termasuk 1 jenis anggrek langka
yaitu anggrek Hitam yang sulit ditemukan keberadaan nya di tempat lain. Maka
tak heran kalau masyarakat sesepuh dahulu menamainya Gunung Kembang. Uniknya
ketinggian Gunung Kembang ini menurut penuturan Mas Danyang setiap tahun nya
bertambah, sepuluh tahun yang lalu ketinggian gunung kembang hanya dikisaran
1.200 mdpl, sedangkan sekarang sudah mencapai diatas 2.000 mdpl, menurut
penelitian hal ini disebabkan oleh aktivitas magma Gunung Sindoro yang mengalir
ke Gunung Kembang sehingga memicu bertambah tinggi setiap waktunya. Mas Danang menuturkan Jalur pendakian Gunung
Blembem ini baru dibuka secara umum tepatnya tanggal 1 April 2018, saat itu
pihak basecamp mengadakan pendakian secara massal yang terbuka untuk umum
sekaligus launching Jalur, dimulai tanggal 30 Maret sampai 1 April 2018. Saat
pendakian launching itu berdasarkan catatan dibuku tamu diikuti hampir sekitar
800 orang pendaki, belum lagi yang tidak tercatat mungkin kalau ditotal ada
sekitar 1000 orang pendaki. Jalur pendakian nya bisa dikatakan masih perawan,
masih belum banyak terjamah tangan tangan manusia, selain itu masih terdapat
hewan liar seperti babi hutan, kijang bahkan macan tutul. Untuk itulah
pengelola basecamp tidak mengizinkan mendaki di malam hari karena selain
ditakutkan dijumpainya hewan liar petunjuk arahnya pun masih minim.
dikhawatirkan pendaki akan tersesat jika mendaki dimalam hari. Selain itu
mistis di Gunung Kembang cukup kuat dengan adanya berbagai cerita mistis yang
dipercayai oleh warga sekitar. Setelah mengurus simaksi dan beristirahat
sejenak kami melakukan packing ulang merapihkan dan menyusun kembali
perlengkapan mendaki dan logistik yang akan dibawa. Dari 7 orang, tim kami yang
akan ikut mendaki gunung kembang hanya 5 orang dikarenakan 2 teman kami kondisi
nya sedang kurang sehat.
Setelah semuanya siap sekitar jam2 siang kami memulai
pendakian Gunung Kembang. Diawali dengan berdoa dan berfoto bersama di depan
basecamp pendakian kami mulai, trek awal yang kami tempuh adalah melewati kebun
teh Tambi.
Dari sini jalurnya sudah
mulai menanjak membelah perkebunan teh yang begitu asri. Papan petunjuk nya
sudah cukup jelas berupa papan kayu berwarna merah yang menjadi acuan pendaki
untuk melangkah. Satu jam berjalan jalur masih didominasi perkebunan teh sampai
akhirnya kami sampai di Pos 1 Istana Katak. Beristirahat sejenak sambil
mengatur kembali nafas, sekitar 15 menit kemudian pendakian dilanjutkan. Jalur
tidak berubah masih dikelilingi perkebunan teh nan hijau, langkah demi langkah
terus kami lalui dengan penuh semangat kemudian tiba lah kami di Pos 2 Kandang
Celeng.
Pos Kandang Celeng merupakan batas terakhir jalur perkebunan teh,
disini merupakan titik awal pintu masuk hutan Gunung kembang yang katanya masih
sangat asri dan alami. Perjalanan menyusuri jalur perkebunan teh dari basecamp
sekitar 2 jam dengan langkah yang santai. Menurut penuturan warga dinamai
Kandang Celeng karena disini dahulu nya banyak dijumpai Celeng atau Babi
hutan.
Setelah beristirahat sejenak dan
berfoto kami melanjutkan perjalanan dari Pos Kandang Celeng memasuki hutan
rapat yang terlihat masih asri.
Jalurnya kali ini didominasi pohon pohon yang
menjulang tinggi dengan dahan nya yang ditumbuhi lumut, tanah yang kami pijak
merupakan akar dari pohon pohon tersebut. Hutan nya sangat rapat, sinar
matahari pun nyaris tidak bisa menembus rindangnya pepohonan. Medan nya terus
menanjak tanpa ampun, fisik kami mulai sedikit terkuras rasa lelah pun mulai
terasa. Ditengah nafas yang mulai terengah di depan pandangan kami terdapat
jalur yang cukup datar ternyata itu adalah Pos 3 Liliput, akhirnya kami
beristirahat sejenak di pos 3 memulihkan kembali kondisi fisik yang mulai
terasa lelah. Beberapa tegug air mineral dan potongan roti sedikitnya mampu
menambah tenaga kami untuk kembali menempuh jalur hutan yang terus menanjak. Cuaca
mulai terasa dingin, kami tidak berlama lama istirahat karena semakin lama akan
terasa semakin dingin. Dari Pos 3 pendakian dilanjutkan dengan menempuh trek
yang masih terus menanjak, hutan nya yang rapat membuat tanah yang kami pijak
basah meskipun di musim kemarau seperti sekarang. Dari sini kami mulai bertemu
beberapa rombongan pendaki lain yang akan naik mendaki gunung Kembang juga,
diantaranya rombongan pendaki dari Semarang, Wonosobo dan Yogyakarta. setelah
mendaki sekitar 30 menit kami kembali berjumpa dengan Pos yaitu Pos 4 Simpang
3. Seperti biasa di setiap pos yang tanah nya landai kami beristirahat sejenak
memulihkan badan yang terasa lelah. Di pos 4 Simpang 3 ini kami menyempatkan
berbincang dengan rombongan pendaki lain, dari salah satu rombongan terdapat
seorang wanita berparas ayu, namanya Mba Icha. Menurutnya ia tertarik mendaki
Gunung Kembang yang baru diresmikan jalurnya ini karena belum terlalu
mainstream seperti Gunung-gunung lainnya di Jawa Tengah, selain itu keasrian
hutan nya yang masih perawan jadi daya tarik tersendiri baginya. Pendakian
kembali dilanjutkan dengan medan yang masih sama, terus menanjak dengan hutan
rapat nya yg khas. Langkah kaki terus kami ayun, menyerah haram hukumnya, suara
nafas kami semakin terdengar, rasa lelah harus kami lawan dengan mental yang
kuat untuk sampai di puncak Gunung Kembang.
Akhirnya tiba lah kami di Pos 5
Akar, pos ini merupakan pos terakhir di jalur hutan karena setelah ini jalur
nya akan berubah menjadi lebih terbuka. Karena cuaca sudah sedikit gelap dan
waktu telah menunjukkan jam5 sore kami tidak berlama lama beristirahat di pos
5. Hanya menarik nafas sejenak langkah kaki kembali kami ayunkan, dominasi
pohon-pohon tinggi perlahan berkurang, sampai akhirnya jalur yang sebelumnya
berupa hutan berubah menjadi terbuka dengan langit yang terlihat mulai gelap. Kali
ini jalur yang dilewati berupa rumput ilalang, cukup indah memang namun medan
terasa semakin lebih menanjak. Tak lama kami bersua Pos 6 Tanjakan Mesra,
dimulai dari sini fisik dan mental kami benar-benar diuji dengan tanjakan yang
sangat curam, mungkin inilah kenapa dinamai tanjakan mesra karena disini kita
akan lebih mesra dengan tanah, seolah kami berpegangan mesra dengan jalur
karena tangan sesekali digunakan untuk penopang saat melangkah agar tidak
terperosok. Jalur terlihat terus menanjak, langit semakin gelap dan kabut mulai
menghampiri, jarak pandang semakin tipis. Headlamp pendaki mulai dinyalakan
untuk membantu menerangi jalur karena hari semakin gelap. Angin semakin kencang
berhembus dingin semakin terasa menusuk tulang kami berhenti sejenak untuk
memakai Jaket karena sudah tak kuasa menahan dingin. Langkah kembali diayunkan
melahap tanjakan demi tanjakan sampai akhirnya terlihat ujung dari tanjakan
yang kami harapkan itu adalah puncak. Benar saja begitu sampai diujung tanjakan
tanah berubah menjadi datar dengan rumput ilalang disekelilingnya. Puncaaakkk
teriak salah seorang rekan kami, setelah menempuh waktu pendakian sekitar 4 jam
akhirnya kami sampai di puncak Gunung Kembang. Rasa lelah seketika hilang saat
kami menginjakan kaki di puncak, karena hari sudah mulai malam dan langit sudah
gelap kami langsung mendirikan tenda untuk beristirahat. Kemudian kami mulai memasak air untuk membuat
kopi hangat, dilanjutkan memasak mie instan dan nasi sebagai menu makan malam
kami. Setelah perut diisi kami semua beristirahat untuk tidur agar keesokan
harinya bisa bangun lebih pagi untuk menyaksikan moment matahari terbit dari
puncak Gunung Kembang.
Keeksotikan Lukisan
Alam di Puncak Gunung Kembang
Alarm berdering kencang jam 4 pagi, namun belum satu pun
dari kami yang bangun karena masih betah berada di dalam sleeping bag. Baru
sekitar jam5 pagi satu per satu dari kami mulai terbangun dan keluar dari dalam
tenda. Langit masih sedikit gelap matahari di timur terhalangi gagahnya Gunung
Sindoro yang menjulang tinggi. Untuk melihat moment matahari terbit kami harus
berjalan sedikit ke arah selatan agar tidak terhalang oleh Gunung Sindoro. Dari
sini sedikit terlihat di arah timur matahari yang mulai perlahan meninggi
dengan langit yang menguning.
Lukisan alam nya semakin indah karena dari
kejauhan terlihat gunung merbabu dengan hamparan awan nya yang lembut, tak
hanya itu saja Gunung Sumbing yang cukup dekat terlihat begitu eksotik dengan
sosoknya yang gagah menjulang tinggi. Sungguh
lukisan alam yang sangat indah dan begitu memanjakan mata bagi siapapun yang
melihatnya. Sarapan pagi yang nikmat melihat betapa indahnya ciptaan yang maha
kuasa, inilah pesona keindahan yang dapat dilihat dari puncak gunung kembang.
Kami pun secara bergantian berswafoto mengabadikan moment indah ini untuk
menambah koleksi bingkai foto. Matahari perlahan mulai meninggi menghangati
badan kami yang sebelumnya terus dirasuki rasa dingin.
Dari sudut lain
pandangan kami tak pernah luput dari keindahan lukisan alam, kembali berjalan
ke dekat tenda gagahnya gunung sindoro semakin terkuak karena hari sudah mulai
terang. dari sini Gunung Sindoro terlihat sangat dekat dengan kegagahan dan
keeksotikan nya,
selain itu tepat dibawah puncak gunung kembang yang menghadap
ke Gunung Sindoro terdapat sebuah kawah mati yang terlihat sangat unik, kawah
mati ini dinamai Bimo Pengkok, bentuknya berupa cekungan yang menyerupai
mangkok, di dasarnya ditumbuhi rumput ilalang yang indah, konon katanya dikala
musim hujan ditengah tengah nya terdapat kubangan air menyerupai danau yang menambah
keelokan kawah mati ini. inilah daya tarik lain dari puncak Gunung Kembang,
mitosnya menurut penuturan dari mas Danyang kawah mati ini dinamai Bimo Pengkok
karena konon dulu nya sang Bimo (Bima) pernah terjatuh di Gunung Kembang tepatnya
di lokasi kawah tersebut. Berjalan sedikit ke arah utara masih disuguhkan
lukisan alam yang indah, dari sini terlihat indahnya dataran tinggi Dieng
dengan puncaknya Gunung Prau.
Dari sisi sebelah barat pun tidak mau kalah, Nampak
dari kejauhan sosok Gunung Slamet yang tinggi dengan gagahnya memancarkan
keindahan. Dari berbagai sudut puncak Gunung Kembang menyuguhkan panorama alam
yang indah, walaupun tinggi nya tidak seberapa namun di puncaknya kita dapat
menyaksikan keindahan lukisan alam yang tidak dapat dijumpai di Gunung lainnya.
Sebagai pendatang baru di dunia pendakian Indonesia khususnya di pulau Jawa,
Gunung Kembang memiliki potensi daya tarik tersendiri. Hal ini merupakan modal
kuat bagi pengelola dan pemerintah daerah setempat untuk mengembangkan potensi
wisata agar lebih dikenal masyarakat luas khusunya para pecandu ketinggian. Saat
ini Gunung kembang dikelola oleh Skydoors Indonesia (Komunitas Penggiat alam
tertua di Jawa Tengah) yang dipercaya oleh Perhutani untuk mengelola wisata
pendakian Gunung Kembang. Setelah puas berfoto dari berbagai sudut kami kembali
ke tenda untuk masak menyiapkan sarapan pagi. Sekitar jam9 pagi kami kembali
turun agar sampai di basecamp tidak terlalu siang.
Melewati jalur yang sama
ketika pergi saat turun kita tetap harus berhati hati karena turunannya yang
cukup curam dan pijakan tanahnya yang basah akan menjadi licin. Saat turun
waktu tempuhnya lebih singkat, dapat ditempuh dengan waktu 3 jam saja dengan
berjalan santai. Sekitar jam12 siang kami telah sampai kembali di basecamp,
disela sela beristirahat saya kembali berbincang dengan Mas Danyang. Ia
mempersilahkan bagi siapapun pendaki yang ingin mendaki Gunung Kembang untuk datang,
namun ia menekankan agar teman-teman pendaki bisa sama sama menjaga kebersihan
dan melestarikan keindahan Gunung Kembang dengan tidak membuang sampah
sembarangan dan membawa turun kembali sampah yang dihasilkan. Ia pun menegaskan
agar pendaki tidak merusak tanaman dan tidak membuat api unggun di puncak
karena puncak Gunung kembang terdiri dari savana dengan rumput ilalang yang
mudah terbakar. Selain itu mewakili pengelola basecamp Ia menghimbau untuk semua pendaki yang akan
naik ke Gunung Kembang untuk lebih safety dari mulai fisik dan perlengkapan serta
obat-obatan pribadi mengingat trek gunung kembang yang cukup terjal menguras
tenaga serta suhu udara yang sangat dingin dan sulit diprediksi.
Tips Mendaki Gunung
Kembang
1.
Persiapkan kondisi fisik pastikan dalam keadaan
sehat sebelum akan mendaki Gunung Kembang
2.
Bawa peralatan dan perlengkapan mendaki serta
obat obatan Pribadi untuk menghindari resiko yang tidak diinginkan
3.
Dilarang mendaki diwaktu sore dan malam hari
4.
Dilarang mendirikan tenda di sepanjang jalur pendakian
karena masih banyak terdapat hewan liar, hanya disarankan mendirikan tenda di
puncak Gunung kembang
5.
Dilarang membuat api unggun terutama di puncak
karena disana didominasi savana dengan rumput ilalang yang mudah terbakar
6.
Waktu pendakian terbaik adalah di pagi atau
siang hari agar sebelum gelap kita sudah sampai di puncak
7.
Cara termudah untuk sampai di basecamp gunung
kembang adalah menggunakan bis tujuan Terminal wonosobo, kemudian dilanjutkan
menggunakan ojek karena tidak tersedia transportasi umum
Rincian Estimasi Biaya Transportasi Mendaki Gunung Kembang
1.
Tiket bis Bandung-Wonosobo Rp
85.000
2.
Ojek dari Terminal wonosbo ke basecamp Rp 20.000
3.
Simaksi pendakian Gunung Kembang Rp
10.000
4.
Tiket bis Wonosobo-Bandung Rp
85.000
5.
Ojek dari basecamp ke Terminal Wonosobo Rp
20.000
Total estimasi Biaya Rp
220.000
*Kontak
basecamp Gunung Kembang : 08811303713 (Mas Danyang)






















cerita yang bagus, kita menuliskan hal yang sama
BalasHapus